Analisis dari sebuah tengkorak terlestarikan dari 54 juta tahun lalu bertentangan dengan beberapa asumsi umum mengenai struktur otak dan evolusi primata pertama. Studi ini mempersempit kemungkinan apa penyebab primata mengevolusikan otak yang lebih besar. Studi ini dijadwalkan muncul dalam edisi online tanggal 22 juni dari
Proceedings of the National Academy of Sciences.
Tengkorak ini milik sebuah kelompok primata primitif bernama Plesiadapiforms, yang berevolusi dalam 10 juta tahun antara kepunahan dinosaurus dan leluhur pertama yang dapat dilacak dari primata modern. Tengkorak sepanjang 1,5 inci ini ditemukan sepenuhnya lengkap, memungkinkan para peneliti membuat cetakan maya pertama dari otak primata primitif.
“Sebagian besar penjelasan evolusi otak primata berdasarkan pada data dari primata hidup,” kata pemimpin penelitian
Mary Silcox, antropolog dari University of Winnipeg dan peneliti pula di UF's Florida Museum of Natural History. "Ada banyak spekulasi mengenai seperti apa otak primata paling awal itu, dan tampak kalau sebagian besar spekulasi ini salah.”
Para peneliti memakai scan CT untuk mengambil elbih dari 1200 citra sinar x potongan melintang dari tengkorak ini, yang digabung menjadi model 3 dimensi otak.
“Sebuah otak yang besar dan rumit telah lama dipandang sebagai salah satu langkah utama yang memisahkan primata dari mamalia lainnya,” kata paleontolog vertebrata dan peneliti lain dari
Florida Museum , Jonathan Bloch. "Pada awal kita yang sangat bersahaja, kita tidaklah spesial. Itu terjadi selama puluhan juta tahun.”
Sang hewan, Ignacius graybullianus, merupakan cabang samping dalam pohon kehidupan primata, kata Bloch. “Anda dapat memikirkannya sebagai sepupu dari garis pewarisan utama yang memunculkan kita.”
Dalam riset sebelumnya,
Bloch dan Silcox menemukan kalau Plesiadapiforms adalah spesies transisi.
Ignacius sama dengan primata modern dalam hal makanannya dan tinggalnya di pohon namun tidak melompat dari pohon ke pohon seperti primata modern yang cepat bergerak.
Dalam banyak cara, primata purba berperilaku seperti primata modern namun dengan otak yang separuh atau dua pertiga ukuran primata modern terkecil. Ini artinya faktor seperti tinggal di pohon dan memakan buah dapat dihilangkan sebagai penyebab potensial evolusi otak primata, kata Silcox, karena “Ignacius yang berotak kecil sudah melakukan hal ini.”
Cetakan itu menunjukkan kombinasi mengagumkan dari tampilan primata purba yang membuat kita berpikir ulang tentang evolusi otak primata, kata antropolog
Florida State University , Dean Falk, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
“Hipotesis mengenai evolusi otak primata purba sering mengkaitkan penciuman dengan konsumsi serangga, dan yang lebih baru berevolusi dalam proses visual dengan memakan biji di habitat arboreal,” kata Falk.
Perpindahan ke ukuran otak yang lebih besar terjadi pada sebuah letusan evolusi yang terjadi 10 juta tahun setelah kepunahan dinosaurus. Pada saat itu, tampilan visual di otak menjadi lebih banyak sementara benjolan olfaktori menjadi lebih kecil.
Lebih dari mungkin, kata bloch, perubahan dalam struktur dan ukuran otak ini terkait dengan primata yang hidup di hutan kanopi tertutup yang membawa pohon lebih dekat dan memungkinkan lebih banyak lompatan. Namun menjawab ini memerlukan penemuan dan analisis fosil baru.
Perubahan dalam ukuran dan struktur otak di tahap awal evolusi primata membangkitkan debat sengit berdekade lamanya. Namun hingga kini, bukti fosil masih sedikit. Banyak model otak primata purba berdasarkan pada bajing pohon, yang datang dari asia tenggara dan jauh kaitannya dengan manusia. Namun dengan evolusi 70 juta tahun antara mereka dan kita, “tampak kalau bajing pohon bukanlah model yang bagus,” kata Silcox.
Pohon evolusinya
LUCA - Eukariota - Unikonta - Ophisthokonta - Hewan -Eumetazoa - Bilateria - Deuterostomia - Chordata - Craniata - Vertebrata - Gnathostomata - Teleostomi - Osteichthyes - Sarcopterygii - Vertebrata darat - Tetrapoda - Reptiliomorpha - Amniota - Synapsida - Eupelycosauria - Sphenacodontia - Sphenacodontoidea - Therapsida - Theriodontia - Cynodontia - Mammalia - Eutheria - Dermoptera -Paromomyidae - Phenacolemurinae -Phenacolemurini - Ignacius - Ignacius graybullianus
Bandingkan dengan manusia
LUCA - Eukariota - Unikonta - Ophisthokonta - Hewan -Eumetazoa - Bilateria - Deuterostomia - Chordata - Craniata - Vertebrata - Gnathostomata - Teleostomi - Osteichthyes - Sarcopterygii - Vertebrata darat - Tetrapoda - Reptiliomorpha - Amniota - Synapsida - Eupelycosauria - Sphenacodontia - Sphenacodontoidea - Therapsida - Theriodontia - Cynodontia - Mammalia - Eutheria - Primata -Catarrhini - Hominidae - Homo - Homo sapiens





